Senin, 13 Oktober 2014

Malala Peraih Nobel Termuda




Malala Yousafzai Saat Melambaikan Tangan
 
(Sumber gambar theguardian.com). Sejak dulu di berbagai Negara terutama Negara Berkembang, perempuan seringkali dianggap lemah dan didiskriminasikan dalam beberapa hal terutama dalam bidang Pendidikan. Perempuan itu tidak perlu sekolah lha ujung-ujungnya tetap di rumah mengurus keluarga.

Di Indonesia ,setelah muncunya R.A. Kartini dan Dewi Sartika sebagai pahlawan pejuang hak Perempuan telah merubah paradigma Negara terhadap perempuan di bidang pendidikan, bahkan tercantum dalam UUD'45 "Negara menjamin pendidikan anak-anak" dan Negeri kita pernah dipimpin oleh Presiden Wanita.

Faktanya, saat ini masih ada Negara yang membatasi anak-anak muda khususnya perempuan dalam memperoleh pendidikan yang layak bahkan seorang anak muda hampir meregang nyawa tertembak demi nama "Freedom of education" sehingga layak untuk mendapatkan Nobel Perdamaian di usia mudanya (17 Tahun). Wow, adakah anak muda zaman sekarang yang berani?...

Ya, Malila Yousafzai namanya, peraih Nobel Perdamaian Tahun 2014 dan termuda yang ditetapkan oleh Komite Norwegia Hari Jum'at, 10 Oktober kemarin. Seorang gadis yang terselamatkan dari maut karena kepalanya tertembak oleh militan Taliban Tahun 2012 lalu demi memperjuangkan hak-hak anak muda untuk memperoleh penidikan dan menunjukkan bahwa anak-anak bisa berkontribusi terhadap situasi mereka sendiri.

Pendidikan itu penting, entah perempuan akan berkarir atau tidak, karena perempuanlah (ibu) sebagai induk pendidikan bagi anak terutama pendidikan budi pekerti dan agama. Jika yang muda bersemangat, kita ibu-ibu juga harus lebih semangat pastinya ...Hatcha!

Tidak ada komentar: