Jumat, 10 Oktober 2014

Good Bye Miss Clumsy

Oleh: Zaqia Nur Fajarini

Perkenalkan namaku Sandra Kirana tapi biasa dipanggil Sakura, terlalu kejepang-kejepangan memang tapi bukan berarti aku berasal dari Negeri Sakura lho, itu adalah julukan turun temurun dari teman-temanku sejak Sekolah Dasar dan herannya sampai sekarang melekat hingga dunia kerjaku. Aku berasal dari sebuah Desa yang masih berseri di Kota Mojokerto.

 Mengapa teman-teman memanggilku Sakura? Pertama, karena aku ngefans banget sama yang namanya Jepang dan segala hal yang berkaitan dengan Negara Asia Timur ini yang selalu membuatku terpukau dan tidak membosankan. Kedua, karena aku cewek tomboy yang suka sekali memakai tas ransel apapun alasannya, sebagus-bagusnya tas cewek yang terbaru, terbagus, dan termahalpun tidak akan mampu menggoyahkan keyakinanku bahwa tas ransel itu lebih nyaman dipakai kemana saja. Aku berperawakan pendek berisi alias gendut, sehingga ketika memakai tas ransel mampu membuat teman-temanku terpingkal melihat performenceku yang seperti kura-kura menggendong cangkang hehe. Awalnya  tersinggung tapi lama kelamaan ya aku anggap sebagai ciri khasku Sakura-Chan.

Julukanku selain Sakura adalah Miss Clumsy dan aku akan menceritakan pengalaman-pengalamanku sebagai Miss Clumsy hingga julukan itu menjadi kekuatanku ketika berkarier. Julukan ini awalnya yang memberikan adalah tanteku dan benar-benar membuatku terbakar saat aku kuliah. Ketika aku bertanya “mengapa tante memberiku julukan tersebut?” Beliau menjawab, “karena dulu tante pernah berkali-kali mengantarkanmu mengikuti perlombaan tilawah dan hafalan, saat itu kamu masih Taman Kanak-kanak. Kamu lupa semua hafalan dan nada tilawah yang sudah dipelajari akhirnya kamu hanya berdiri terpaku lama.”

Ah, aku mengingat peristiwa itu dan bahkan takkan kulupakan meskipun membuatku malu ketika mengingatnya saat ini. Saat itu aku masih TK, ketika seleksi diantara semua teman hanya aku yang mampu menghafalkan dengan  benar dan lancar tapi herannya ketika lomba dimulai semua yang kuhafalkan dengan lancar mendadak hilang, aku hanya berdiri seperti tersetrum diatas panggung menatapi semua penonton, keringat sebesar kedelai keluar dari tubuhku, pokoknya kacau, tapi aku sangat menyesal ketika sudah turun panggung dan hanya bisa menangis.

Pengalaman keduaku adalah saat mengikuti lomba membaca Alquran secara tartil tingkat Kabupaten, aku masih kelas tiga Sekolah Dasar. Aku sudah mempersiapkan jauh-jauh hari dengan cara mendengarkan melalui tape recorder dan belajar dengan Ustadz namun tetap saja ketika aku berada di kotak lomba, aku merasa bibirku tak mampu berucap apalagi peserta-peserta sebelumnya membaca dengan sempurna, aku semakin takut dan minder dengan yang akan kulakukan, aku merasa tidak bisa apa-apa, aku malu. Lagi-lagi aku menyesali semuanya setelah menuruni panggung dan menangis.

Sejak saat itu aku trauma berbicara atau melakukan apapun yang berhubungan dengan panggung maupun berdiri di hadapan khalayak umum. Aku tidak mau mengikuti lomba-lomba yang hanya akan menambah kejelasan ketidakmampuanku. Berbagai pihak seperti orangtua dan guruku senantiasa memberiku semangat dan menenangkan hatiku dengan mengatakan “kamu hanya perlu jam terbang lebih banyak dan latihan lebih baik lagi pasti bisa mengalahkan gugup serta nerveous dalam dirimu.” Tapi tetap aku masih enggan, aku masih jengkel dengan kelemahanku yang selalu kikuk. Aku seperti seekor burung kecil yang tidak berani terbang karena takut jatuh.

Kondisi tersebut bertahan sampai aku remaja, dalam hatiku sebenarnya sosok ambisius, aku iri melihat teman-teman dan kakak kelasku yang berani tampil di depan kelas atau depan umum dengan vocal yang lancar, aku ingin seperti presenter dan artis-artis yang tampil percaya diri di manapun. Sampai akhirnya aku lolos menjadi murid SMA Negeri terbaik di Kota, saat itulah aku ingin ada perubahan dalam diriku dan meyakinkan jika orang lain bisa mengapa aku tidak? Ditambah lagi cerita masa lalu ayahku sebelum menjadi seorang mubaligh, beliau selalu melarikan diri ketika pelajaran ceramah, namun percuma menghindari kelemahan karena tidak akan membuat kita maju, solusinya adalah melawan kelemahan itu sendiri. Akhinya, aku mencoba dan mencari tahu bagaimana caranya menghilangkan penyakit yang menjadi kelemahanku tersebut.

Pertama, yang kulakukan adalah mengikuti kegiatan ekstrakulikuler dan OSIS di sekolahku, aku mengamati kakak kelasku yang menjadi panitia dalam berbagai kegiatan, mereka percaya diri dan berani dalam mengelola berbagai kegiatan serta  menjadi pembicara. Kedua, mencari teman yang banyak dari berbagai kalangan seperti kakak kelas, teman seangkatan, guru, dan masyarakat, dengan meningkatkan sosialisasi dan berhubungan dengan orang lain semakin membuka wawasan dan memperluas pengetahuan kita tentang hidup yang sebenarnya, karena aku berasal dari SMP yang jauh dari kota ya pastinya jauh beda lingkungannya. Ketiga, niat yang positif untuk hal yang bermanfaat karena dalam sebuah Hadits disebutkan “segala perbuatan kita tergantung niatnya” . keempat, tentunya latihan yang giat dan Istiqamah dengan apa yang telah diniatkan  dan Organisasi adalah wadah untuk belajar mandiri dan percaya diri.

Hasilnya, semenjak aku berkomitmen untuk melawan kelemahan tersebut, aku bisa meminimalisir kelemahanku dengan berdo’a dan minum air putih sebelum tampil di depan umum, itulah awal potensiku muncul. Aku menduduki jabatan-jabatan penting dalam berbagai organisasi di SMA, memiliki berbagai kolega dan prestasi tetap utama.

Berlanjut ketika kuliah aku tertarik dengan dunia penulisan ilmiah yang disertai presentasi mengikuti perlombaan, aku rasa ini tantangan baru untuk meningkatkan kualitas diri. Hal ini didukung karena hukumnya wajib bagi Mahasiswa Baru Jurusan Pendidikan Biologi. Awalnya aku terpaksa ikut-ikutan, namun melihat dampak positif dan manfaat yang terjadi kepada para pendahulu semakin menambah motivasiku untuk berkarya. Aku focus berlatih menulis ilmiah, membuat powerpoint untuk presentasi, dan berlatih menjadi presenter lomba yang komunikatif.
Kegiatan tersebut ternyata mampu merubah kehidupanku dari miss clumsy menjadi good bye miss clumsy, aku mendapatkan nilai terbaik hingga lulus, sering memenangkan dan menjadi finalis lomba penulisan hingga Tingkat Nasional, menjadi nara sumber kegiatan penulisan, kontributor buku antalogi dan artikel media cetak, dan menjadi pendidik anak bangsa. Demikian cerita singkat dariku, semoga bisa menginspirasi dan bermanfaat bagi seluruh pembaca yang budiman.

 

Saya tidak tahu ini tulisan cerpen atau artikel, yang jelas saya hanya ingin berbagi pengalaman, meskipun kata terserak namun niat tertata, insyaAllah, semoga bermanfaat ^_^

Tidak ada komentar: